SUCIKAN “NIAT” KE TANAH SUCI

Kemenag Pamekasan Mimbar Agama

Oleh : Drs. Mulyono,  MA *)

 

“Serulah manusia  untuk mengerjakan haji,  niscaya mereka datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus  yang datang dari segenap penjuru yang jauh”  [QS  Al-Hajj  [22]  ayat 27]

Ayat diatas   menurut   Imam Al-Qurthubni  dalam Al-Jami’ li al-Ahkam al-Qur’an    [2006] menjelaskan tentang perintah Allah kepada Nabi Ibrahim  setelah selesai membangun ka’bah agar  menyerukan   kepada  seluruh  manusia  agar mendatangi  ‘baitullah’ [rumah-Nya]    melaksanakan ibadah haji untuk mentauhidkan, berdo’a, berdzikir dan bersyukur kepada-Nya.   Dulu seruan itu didengar oleh manusia dan  disambut dengan berjalan kaki, mendaki jalan terjal,  perjalanan  melelahkan dengan medan yang berat  dan  butuh tiga sampai empat bulan dalam perjalanan. 

Bertahun-tahun lamanya niat terpendam,  mengumpulkan uang sedikit demi sedikit,  menabung  dengan harapan   untuk berangkat  ke tanah suci.   Setelah sekian tahun lamanya menunggu  antrean,    dengan penuh kesabaran   akhirnya   dengan bersuka cita  terpanggil untuk ‘berangkat’  ke tanah suci.   Kerinduan mendalam untuk melihat  Ka’bah,  ingin   merasakan sujud di baitullah merupakan   ‘ungkapan mendalam’  dari  seorang hamba yang  rindu  kepada   Sang Khaliq.  

Berangkat mendatangi baitullah ke tanah suci,  bukan hanya  panggilan  tapi sekaligus merupakan undangan kemuliaan dari Allah swt  sebagai  ‘dluyufurrahman” ,  tamu kehormatan  yakni   tamu istimewa yang akan mendapat pelayanan dan balasan pahala yang luar biasa.

Berbondong-bondong manusia datang dari berbagai penjuru dunia, semata-mata  hanya untuk menyaksikan keagungan-Nya, dengan  bertakbir, berdzikir  dan bertalbiyah menyebut nama-Nya.  Mulai dari rakyat sampai pejabat,  dari berbagai suku dan golongan,   dari berbagai aliran dan madzab    berdatangan   ke tanah suci  untuk  duduk bersimpuh dan bersujud di depan Ka’bah. 

Berangkat  ke tanah suci  didasari niat yang lurus untuk memperoleh  ridla-Nya.  Syaikh Ahmad Ibnu Athaillah As-Sakandary dalam kitabnya al-Hikam, berpesan agar ‘meluruskan niat’  dalam setiap amalan jangan sampai sia-sia karena niatnya salah.  

Ke  tanah suci  dengan  ‘mensucikan niat’,  meluruskan maksud dan tujuan   berhaji  bukan untuk  mengejar status, ingin dipuji atasan,  disanjung teman  dan  mencari  popularitas. ‘Sterilkan niat’  dari maksud terselubung,  jangan sampai ada tujuan tertentu  !!!

*)  Penulis adalah Kepala KUA Kecamatan Tlanakan

63