Setiap jamaah haji yang tawaf, berkeinginan untuk mencium Hajar Aswad. Saking banyaknya jamaah haji yang tawaf, mereka mencari cara dengan saling berdesak-desakan, berebut paling depan, menerobos, mencari celah bagaimana supaya sampai ke areal Hajar Aswad. Memang sangat sulit untuk bisa menciumnya, mengingat berjibelnya manusia yang tawaf, sehingga harus mengikuti arus putaran yang lebih mendekati areal Hajar Aswad.
Tempat Hajar Aswad berada di sudut timur laut Ka'bah, dan dijadikan pemulaan memulai tawaf dan mengakhirinya di Hajar Aswad pula. Mencium Hajar Aswad termasuk mengikuti sunah Rasulullah SAW sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas RA bercerita bahwa Umar bersandar di rukun Hajar Aswad lalu berkata:
"Sungguh aku mengetahui kamu hanyalah batu, sekiranya aku tidak melihat Rasulullah SAW mencium dan mengusap kamu, niscaya aku tidak mencium dan mengusapmu. Sungguh telah ada pada diri Rasulullah SAW suri teladan."
(HR Ahmad dari Ibnu Abbas)
Di riwayat lain juga disebutkan yaitu, dari Abis bin Rabi'ah dari Umar RA bahwa Umar mendekati Hajar Aswad lalu berkata:
"Sungguh aku mengetahui bahwa kamu hanyalah batu, kamu tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat, sehingga aku tidak melihat Nabi SAW menciummu, niscaya aku tidak menciummu."
(HR Bukhari)
Pada saat mencium Hajar Aswad, manusia diharap ingat dengan janjinya yang pernah diikrarkan tentang status kehambaan di hadapan Tuhannya. Ikrar yang menegaskan bahwa hanyalah Allah SWT yang patut disembah dan dijadikan pelindung. Mencium Hajar Aswad merupakan sikap tawadlu' yakni ketundukan manusia mengikuti perintah Tuhan.
Manusia adalah makhluk mulia, sedangkan batu adalah makhluk tidak berakal. Manusia sering lupa dan lalai akan statusnya sebagai hamba. Untuk mengingatkan, manusia diperintah untuk mencium batu yang lebih rendah dari dirinya, sehingga menyadari bahwa dirinya tidak boleh angkuh, sombong, dan congkak di hadapan-Nya. Mencium Hajar Aswad merupakan simbol cinta, ketaatan total, dan janji setia untuk berkomitmen kepada Allah SWT.
Dengan mencium Hajar Aswad mengalir partikel-partikel energi untuk memperbaharui tekad dan menghidupkan spirit dalam menghadapi rintangan dan tantangan hidup, dengan penyerahan diri yang mendalam kepada-Nya, serta membangkitkan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Drs. Mulyono, M.A.
Kepala KUA Tlanakan