Jamaah haji dari seluruh penjuru dunia bertawaf mengelilingi Ka'bah, bertalbiyah, berdzikir dan menyebut nama-Nya. Tiada hentinya manusia bergerak mengelilingi Ka'bah, ibarat benda-benda langit berputar dan mengelilingi alam semesta, semuanya tunduk dan bertasbih kepada Dzat Ilahi Rabbi, mengikuti sunnatullah dan garis edar menurut ketentuan-Nya.
Tawaf jutaan manusia di depan Ka'bah menunjukkan gerakan siklus kehidupan yang berpacu dengan waktu. Manusia dalam hidup harus dinamis, jangan statis dan apatis. Statis berarti mandeg dan berhenti, tidak berbuat apa-apa, hanya berpangku tangan. Apatis berarti masa bodoh, cuek dan tidak peduli dengan sekitarnya. Tidak mau berpayah-payah dan bersusah-susah, malas melakukan inovasi, tidak punya greget, hanya menunggu termangu-mangu.
Tawaf mengajarkan supaya manusia tidak tinggal diam dan tidak tinggal di tempat, merasa nyaman dan aman, ogah untuk melangkah melakukan pembaharuan dan perbaikan. Hanya kagum setelah perubahan terjadi, terkesima bila semuanya sudah selesai.
Tawaf kehidupan membangkitkan energi agar manusia bangun dari keterpurukan, segera melakukan langkah-langkah menuju kemajuan.
Terus bergerak dan berputar, itulah filosofi tawaf agar manusia terus melakukan improvisasi dan inisiasi untuk kemanfaatan bagi alam semesta.
Drs. Mulyono, M.A.
Kepala KUA Tlanakan