“ME TIME”, RITME BERTAFAKUR

Kemenag Pamekasan Mimbar Agama

Oleh : Drs. Mulyono,  MA *)


“Belum tibalah waktunya bagi orang-orang beriman untuk secara khusyu’ mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diturunkan [kepada mereka].”  [QS. Al-Hadid   [57]  : 16].

Menurut Syaikh Abu Bakar Al-Jazi dalam tafsir Aisar al-Tafâsir mengatakan, tiba saatnya  bagi  orang yang banyak becanda untuk khusyu’ berdzikrullah  agar hatinya tenteram  mengingat Allah swt.   Syeikh  As-Sa’di  dalam Taisir al-Karim al-Rahmân  memaknai  ‘dzikrullah’  dengan  khusyu’   yakni kepatuhan kepada perintah-Nya, mengikuti kebenaran  yang dibawa Rasulullah saw dengan misi  risalahnya.  

‘Me time’   istilah lazim di kalangan Gen z  dan menurut  Oxford Dictionary adalah situasi ketika seseorang  ‘rehat  sejenak’  dari segala kesibukan dengan menghabiskan waktu untuk  ‘scroll social’ di media sambil  rebahan dalam kesendirian.   Saat fisik dan mental  lelah  karena kesibukan,  meluangkan waktu untuk  relax   ‘berkontemplasi’  dengan  merenung  dalam keheningan diri. 

Musa bin Rasyid al-‘Azhimi  dalam kitab Al-Lu’lu’ul Maknun fi Siratin Nabiyyil Ma’mun  [2011]  menjelaskan,    Rasulullah saw  melakukan  berakitifitas  “me time” yakni  bertahannuts  dengan bertafakur dalam keheningan diri  sebagai sarana untuk menambah energy spiritualnya dengan  merenungi kekuasaan  Sang Maha Pencipta.    Syekh  Muhammad al-Ghazali  dalam Fiqh al-Sirah  menegaskan,    Rasulullah saw  membersihkan jiwanya dan memoles hatinya untuk siap menerima  wahyu dan memikul amanah  kenabian. 

‘Me time’  sebuah  aktifitas  yang menyediakan ruang untuk menata pikiran  dan  menenangkan batin  dengan mendekatkan diri  kepada Allah swt.    Dalam kesadaran dan kesendirian yang hening,  seeorang dapat mengevaluasi  perjalanan hidupnya  dan menyadari   apa hakekat  tujuan hidup yang sebenarnya.   Dengan   ‘Me time’  memulihkan  kesadaran  agar  tubuh  lebih  stabil,  menyehatkan mental  dan pikiran  agar lebih ‘balance’  [seimbang],    emosional supaya tetap terkontrol dalam  suasana  batin  yang  lebih jernih.   

‘Me time’  sebuah  ‘ritme tafakur’  yang dapat  digunakan  seorang hamba untuk  merenung  dan berdzikir   kepada   Allah swt  dalam setiap  saat.   Tatkala  kehidupan  dipenuhi  hiruk pikuk,  intrik-intrik  kepentingan,  gelora  ambisi  dan meluapnya nafsu,    saatnya bagi orang beriman   membangun relasi bersama-Nya,  melewati jalan-jalan sunyi keheningan dengan ‘menghadirkan’  dzat-Nya,  ‘menyingkirkan’ sekat-sekat penghalang yang menjauhkan manusia dari  Tuhannya.


*) Penulis adalah Kepala KUA Kecamatan Tlanakan


104