Oleh : Drs. Mulyono, MA *)
“Dan Kami tidak mengutus engkau [Muhammad] melainkan untuk [menjadi] rahmat bagi seluruh alam”. [QS. Al-Anbiya’ [94] : 107].
Menurut Ibnul Mandzur dalam Kamus Lisan al-Arab rahmat diartikan kasah sayang. Diutusnya Rasulullah saw adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia. Syekh Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar dalam Zubdah al-Tafsir min Fath al-Qadir menyatakan bahwa Rasulullah diutus dengan membawa syariat dan aturan sebagai anugerah bagi umat Islam.
Ketegangan geopolitik dan ekskalasi konflik bersenjata dengan rivalitas kekuatan besar yang dipertontokan Iran, Amerika dan Israel menunjukkan kekhawatiran, sehingga dampaknya tatanan dunia semakin rapuh. Kondisi perang tidak hanya bereskalasi local, melainkan terhubung dan berdampak lintas kawasan. Dampaknya semakin nyata, yakni timbulnya krisis kemanusiaan, ketidaskpastian ekonomi dan meningkatnya polariassi global.
Konflik, perang dan perseteruan mungkin akan menjadi bagian dari dinamika global, yang pemicunya karena factor ekonomi dan perebutan sumber daya alam. Geopolitik tidak hanya sekedar didasarkan pada logika kekuasaan semata, melainkan pada nilai-nilai moral kemanusiaan dan masa depan peradaban.
Taktik geopolitik dalam Islam menekankan pada prinsip keadilan, perdamaian dan dan kemashlahatan umat, bukan sekedar dominasi material. Islam menghadirkan sistim nilai dan peradaban dengan menawarkan perspektif untuk memposisikan Islam sebagai penyeimbang kekuatan global yang membawa ‘rahmat’ dan ‘perdamaian’ bagi dunia.
Al-Qur’an secara tegas mengusung keadilan sebagai ‘prinsip universal’ yang harus ditegakkan tanpa diskriminasi, bahkan terhadap pihak yang berbeda atau tidak disukai. Bukan menggunakan standar ganda dalam politik global, dengan penegakan hukum internasional kerap bergantung pada kepentingan ‘aktor besar’.
Keteladanan Rasulullah saw dalam membumikan Islam sebagai ajaran ‘rahmatan lil ‘alamin’ membuktikan bahwa kepemimpinan beliau dengan pendekatan berbasis nilai mampu ‘mentransformasikan’ konflik menjadi peradaban yang inklusif.
Geopolitik yang hanya bertumpu pada kekuatan dan kepentingan terbukti ‘tidak cukup’ untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan. Islam dengan menempatkan keadilan dan kemanusiaan sebagai ‘fondasi utama’ politik yang bernuansa ‘rahmatn lil ‘alamin’
Panggung peperangan dengan tentara, senjata dan rudal, memperlihatkan kekuatan rivalitas sebagai ‘portofolio taktik geopolitik’ hegemoni perseteruan dominasi.
*) Penulis adalah Kepala KUA Tlanakan