Pamekasan — Hasil pengamatan sementara rukyatul hilal yang dilakukan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pamekasan menunjukkan bahwa posisi hilal belum terlihat hingga Kamis, 19 Maret 2026.
Pemantauan hilal tersebut dilaksanakan di kawasan Dermaga Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Badan Hisab Rukyat (BHR), organisasi masyarakat Islam, hingga kalangan akademisi.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, serta sejumlah Kepala Kantor Kemenag kabupaten/kota, di antaranya dari Bangkalan, Sumenep, Probolinggo, dan Surabaya.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pamekasan, Mawardi, menyampaikan bahwa pelaksanaan rukyatul hilal merupakan bagian penting dalam memastikan penentuan awal bulan Hijriah berjalan sesuai syariat dan kaidah ilmiah.
“Rukyatul hilal penting dalam menentukan awal bulan Hijriah secara akurat, dengan memadukan metode hisab dan rukyat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk pelayanan negara kepada umat Islam dalam memberikan kepastian waktu ibadah.
“Melalui rukyatul hilal, pemerintah hadir untuk memberikan kepastian kepada masyarakat, sehingga pelaksanaan ibadah dapat berjalan tertib dan sesuai ketentuan,” tambahnya.

Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, menyampaikan bahwa pelaksanaan rukyatul hilal di Jawa Timur dilakukan di 28 titik pengamatan.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah titik, termasuk di Pamekasan, hilal masih belum dapat terlihat.
“Dari hasil pemantauan sementara, termasuk di wilayah Pamekasan, hilal belum terlihat karena posisinya masih rendah”, jelasnya.
Bahtiar juga menambahkan bahwa kondisi hilal di sebagian besar wilayah Indonesia relatif serupa, meskipun terdapat beberapa daerah seperti Aceh yang memiliki posisi hilal lebih tinggi.
Di wilayah tersebut, ketinggian hilal telah mencapai sekitar 3 derajat dengan elongasi mendekati kriteria MABIMS, yakni sekitar 6,4 derajat.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak memperdebatkan perbedaan yang mungkin muncul dalam penentuan awal bulan Hijriah.
“Tidak usah memperdebatkan perbedaan. Yang terpenting adalah menjaga kebersamaan dan persatuan umat,” tegasnya.
Seluruh hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah akan dilaporkan ke Kemenag RI sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang digelar hari ini.
“Semua hasil rukyat akan dilaporkan ke Kementerian Agama RI untuk kemudian menjadi dasar dalam penetapan sidang isbat hari ini,” tambahnya.

Sementara itu, Tim BHR Pamekasan, Ilyasak, menegaskan bahwa berdasarkan data ephemeris, posisi hilal di wilayah Pamekasan belum memenuhi kriteria MABIMS.
Adapun data hasil perhitungan menunjukkan:
• Tinggi Hilal Mar’i: 02° 04’33”
• Lama Hilal: 00:08:19
• Matahari terbenam: 17:37:52
• Hilal terbenam: 17:46:11
“Di Pamekasan masih belum memenuhi kriteria MABIMS, sehingga hilal diperkirakan tidak terlihat,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, penentuan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau 1 Syawal masih menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
calendar_today 2026-03-28
visibility 475
calendar_today 2026-03-19
visibility 886
calendar_today 2026-03-12
visibility 524
calendar_today 2026-03-10
visibility 54
calendar_today 2026-03-06
visibility 225
calendar_today 2026-03-04
visibility 192